Choose a Bible Book or Range
Type your text here
Ignore Case
Highlight Results

March 09, 2008

TERPELESET KULIT JERUK

KETIKA MENYEPELEKAN SESUATU, KITA MENJADI MUDAH LENGAH;
DI SITU BAHAYA MENGINTIP


Nats: Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya (1 Samuel 17:42)


Pada tahun 1911, Bobby Leach, seorang stuntman, terjun di air terjun Niagara dalam sebuah tong baja yang dirancang khusus. Ia selamat dan hanya mengalami cedera ringan. Kisah keberaniannya menjadi buah bibir di mana-mana. Beberapa tahun kemudian, Bobby Leach diberitakan meninggal dunia di New Zealand. Penyebabnya "sederhana". Saat berjalan kaki di New Zealand, ia terpeleset kulit jeruk. Jatuh.
Patah kaki parah. Akhirnya meninggal karena komplikasi.

Kita bisa saja sanggup menghadapi bahaya besar, tetapi justru kalah dengan tantangan kecil. Kita siap berhadapan dengan masalah besar, tetapi malah kelimpungan ketika berhadapan dengan masalah sepele. Kita bisa tegar menahan gempuran "air terjun Niagara", tetapi tidak berdaya karena "kulit jeruk". Begitulah risiko kalau kita lalai, menganggap remeh, atau merasa hebat.

Itu juga yang terjadi pada Goliat ketika menghadapi Daud. Ia menganggap remeh "anak kecil" yang kemerahan dan elok parasnya itu (ayat 43). Merasa "besar" dan sanggup "menanganinya" dengan mudah. Namun, sejarah mencatat akhir tragis dari sang pendekar kebanggaan bangsa Filistin itu. Sebetulnya Goliat telah kalah sebelum batu umban Daud menghantamnya, yaitu saat ia lengah dan meremehkan lawannya.

Jadi, selalu waspada itu penting; dalam setiap keadaan dan kesempatan. Jangan sampai kita lengah. Jangan mudah menggampangkan sesuatu. Jangan menyepelekan tantangan sekecil apa pun. Kelengahan adalah awal dari kejatuhan. Ingat, bahkan kulit jeruk pun bisa menewaskan seorang Bobby Leach.

1Samuel 17:40-58

40. Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya
dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam
kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang
umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang
Filistin itu.
41 Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di
depannya orang yang membawa perisainya.
42 Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud
serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda,
kemerah-merahan dan elok parasnya.
43 Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka
engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya
orang Filistin itu mengutuki Daud.
44 Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Hadapilah aku,
maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara
dan kepada binatang-binatang di padang."
45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau
mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku
mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala
barisan Israel yang kautantang itu.
46 Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam
tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu
dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat
tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada
binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel
mempunyai Allah,
47 dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN
menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab
di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke
dalam tangan kami."
48. Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud,
maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang
Filistin itu;
49 lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya,
diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah
dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam
dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.
50 Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan
umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan
membunuhnya, tanpa pedang di tangan.
51 Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di
sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya,
lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu.
Ketika orang-orang Filistin melihat, bahwa pahlawan mereka telah
mati, maka larilah mereka.
52 Maka bangkitlah orang-orang Israel dan Yehuda, mereka
bersorak-sorak lalu mengejar orang-orang Filistin sampai dekat
Gat dan sampai pintu gerbang Ekron. Dan orang-orang yang terbunuh
dari orang Filistin bergelimpangan di jalan ke Saaraim, sampai
Gat dan sampai Ekron.
53 Kemudian pulanglah orang Israel dari pemburuan hebat atas
orang Filistin, lalu menjarah perkemahan mereka.
54 Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya
itu dan membawanya ke Yerusalem, tetapi senjata-senjata orang itu
ditaruhnya dalam kemahnya.
55 Ketika Saul melihat Daud pergi menemui orang Filistin itu,
berkatalah ia kepada Abner, panglima tentaranya: "Anak siapakah
orang muda itu, Abner?" Jawab Abner: "Demi tuanku hidup, ya raja,
sesungguhnya aku tidak tahu."
56 Kemudian raja berkata: "Tanyakanlah, anak siapakah orang
muda itu."
57 Ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu,
maka Abner memanggilnya dan membawanya menghadap Saul, sedang
kepala orang Filistin itu masih ada di tangannya.
58 Kata Saul kepadanya: "Anak siapakah engkau, ya orang muda?"
Jawab Daud: "Anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu."

Read more...

March 06, 2008

SENJATA KITA

PERJUANGAN BATIN
ADALAH PERJUANGAN SEUMUR HIDUP

Nats: Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis (Efesus 6:11)

Manusia kerap diperhadapkan pada tiga bidang yang memancing kelemahan manusiawi, yakni harta, kekuasaan, seksualitas. Setiap orang bisa tergoda pada salah satu atau lebih bidang tersebut. Siapa pun orangnya, bahkan para hamba Tuhan sekalipun. Status religius sama sekali bukan jaminan bahwa seseorang pasti tahan uji atau kebal salah. Alih-alih kebal salah, status religius acap kali malah
menjadi topeng!

Untuk maksud itulah, Paulus mengingatkan jemaat di Efesus agar mereka mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ayat 11). Dan tentunya, ini juga berlaku bagi kita semua. Sebagai orang percaya, kita membutuhkan perlindungan yang menyeluruh atas hidup kita. Mengapa? Karena perjuangan kita sama sekali tidak mudah. Kita harus
berjuang melawan roh-roh jahat di udara dan melawan keinginan jahat di dalam diri sendiri. Sebab itu, kita harus selalu waspada dan siap sedia dalam segala hal, dengan mengenakan setiap senjata yang Dia sediakan. Siapa lengah atau gegabah, akan mudah terpeleset dan jatuh.

Selanjutnya, kita harus senantiasa berdoa dan saling mendoakan di antara saudara seiman (ayat 18,19). Memang, kejatuhan bukanlah akhir hidup kita. Ada orang yang justru dapat memanfaatkan kejatuhannya sebagai awal pembaruan hidup yang sejati. Namun yang pasti, kita semua harus terus memiliki kewaspadaan dan penyerahan diri yang total kepada Allah. Melalui doa, mari kita mohonkan dua hal ini kepada Allah, agar kita tak mudah terpeleset pada tiga bidang godaan yang terus berupaya menjatuhkan kita dalam hidup ini.

Efesus 6:10-20

10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam
kekuatan kuasa-Nya.
11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu
dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;
12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging,
tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa,
melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh
jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah,
supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu
dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.
14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan
berbajuzirahkan keadilan,
15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai
sejahtera;
16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab
dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api
dari si jahat,
17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu
firman Allah,
18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di
dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan
permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,
19. juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku,
dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku
memberitakan rahasia Injil,
20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah
supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana
seharusnya aku berbicara.

Read more...

March 05, 2008

BERTOBAT SETIAP HARI

EVALUASI DAN INSTROSPEKSI DIRI SETIAP HARI
ADALAH PINTU MASUK KEPADA PERTOBATAN

Nats: ... lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah Mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa (Ayub 1:5)

Ada orang-orang yang mengalami "pertobatan besar", yakni mereka yang mengalami perubahan radikal dalam hidupnya. Misalnya, Zakheus (Lukas 19:1-10); yang tadinya seorang pendosa, menjadi pengikut Kristus yang taat. Atau, Paulus (Kisah Para Rasul 9:1-19); yang tadinya pembenci kekristenan, menjadi seorang pekabar Injil yang gigih. Namun, setelah perubahan yang demikian drastis, ternyata mereka tidak serta merta menjadi orang suci dan tidak bercela lagi. Sebab,
bagaimanapun kita tetap makhluk yang terbatas dan penuh kelemahan. Tidak lepas dari dosa. Entah dosa dalam perbuatan, atau dalam pikiran dan perasaan. Entah dosa "aktif", atau dosa "pasif". Seperti kata Yakobus, "Jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17). Karena
itu, kita perlu selalu "bertobat setiap hari".

Dalam Perjanjian Lama, pertobatan diwujudkan dalam persembahan korban bakaran. Seperti yang dilakukan Ayub untuk anak-anaknya. Setiap pagi, setelah mereka mengadakan pesta keluarga, ia mempersembahkan korban bakaran untuk mereka. "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati," begitu
Ayub berpikir (Ayub 1:5).

Pada zaman sekarang, pertobatan tidak lagi diwujudkan dalam rupa persembahan korban, tetapi dalam tiga langkah ini: kesadaran, penyesalan, dan tindakan untuk berbalik. Ketiganya merupakan kesatuan. Sadar saja tidak cukup kalau tidak diiringi penyesalan.
Dan, penyesalan perlu diiringi tindakan berbalik; menjauhi dosa dan tidak melakukan dosa itu lagi

Ayub 1:1-5

1. Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu
saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
2 Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
3 Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor
unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan
budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu
adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
4. Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah
mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan
mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka.
5 Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub
memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya,
pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran
sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin
anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam
hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.

Read more...

TIDAK BERKUBANG

WALAU KADANG TERSANDUNG KERIKIL GODAAN
TERUSLAH BERJALAN MAJU MENUJU KEKUDUSAN

Nats: Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang
membawa kamu kepada pengudusan (Roma 6:22)

Suatu hari, Philip Yancey, penulis kristiani ternama, didatangi seorang pria yang menyatakan ingin menceraikan istrinya dan menikahi perempuan lain. Ia bertanya, "Maukah Allah mengampuni dosa yang akan saya lakukan ini? Bukankah Allah Mahakasih?" Yancey mengingatkan, jika seseorang sengaja hidup dalam dosa, bisa jadi ia lupa kembali ke jalan Tuhan. Namun, nasihat itu tak digubris. Rencananya tetap dijalankan. Ternyata benar, pria itu tak lagi mau kembali. Ia tidak hanya jatuh dalam dosa, tetapi juga memilih hidup dalam dosa.

Ini serupa dengan cerita tentang babi dan kucing. Pria itu memilih menjadi seperti babi, yang bila dimasukkan ke kubangan, ia betah berkubang di situ. Ia tak memilih sikap seperti seekor kucing, yang bila jatuh ke kubangan, ia akan segera berupaya keluar.

Seperti Yancey, Paulus pun mengingatkan kita supaya berhati-hati. Setelah menerima kasih karunia Tuhan, kita harus berjaga-jaga agar jangan diperalat lagi untuk menjadi hamba dosa, sebab kita sudah dimerdekakan! Kuasa Kristus memampukan kita untuk menang atas dosa.

Mari kita jagai hidup agar tidak menyerah pada perbuatan dosa. Sebaliknya, hendaklah kita menjadi hamba kebenaran (Roma 6:18). Artinya, tiap hari dan tiap saat kita berupaya menaati kebenaran firman yang membawa kita kepada pengudusan. Ya, orang percaya masih bisa jatuh ke dalam dosa. Godaan dan cobaan masih akan terus kita
jumpai. Namun, jika kita jatuh, segeralah bangkit kembali. Jangan betah berlama-lama hidup dalam dosa. Jangan biarkan dosa menguasai kita

Roma 6:15-23

15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita
tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih
karunia? Sekali-kali tidak!
16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan
dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu
adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa
yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang
memimpin kamu kepada kebenaran?
17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba
dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati
pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.
18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba
kebenaran.
19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu.
Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu
menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada
kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan
anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu
kepada pengudusan.
20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.
21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu
menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya
itu ialah kematian.
22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan
setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa
kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang
kekal.
23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup
yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Read more...

Get Free .CO.CC and .CC.CC Domain name No Ads!
CO.
CC supports for CNAME, A, MX, NS records!

WWW. .CO.CC

e.g. www.myname.co.cc, www.myname2.co.cc

Powered by CO.CC:Free Domain

  © Family Blessing 2009

Back to TOP