Choose a Bible Book or Range
Type your text here
Ignore Case
Highlight Results

November 09, 2009

MENJAGA RAHASIA

KEGAGALAN MENJAGA RAHASIA MEMBUAT ORANG TAK LAGI PANTAS DIPERCAYA
Nas: Yesus berpesan kepada mereka, "Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada siapa pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati." (Matius 17:9)

Bacaan: Matius 17:1-9
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 4-6

Bayangkan. Suatu hari Anda bertemu dengan aktor film terkenal di ruang tunggu bandara. Ia duduk di sebelah Anda, bahkan mengajak Anda bicara. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin Anda akan mengajaknya foto bersama; mengabadikan peristiwa langka itu. Sesampainya di rumah, pasti Anda tidak tahan lagi untuk menceritakan pengalaman istimewa itu pada semua orang.

Petrus, Yohanes, dan Yakobus juga pernah punya pengalaman istimewa ketika mereka diajak Yesus naik gunung. Di situ mereka menyaksikan pemandangan spektakuler. Tuhan Yesus berubah rupa. Bercahaya. Keilahian-Nya terpancar keluar. Lalu mereka melihat Musa dan Elia, dua nabi terbesar dalam sejarah Israel. Tak seorang pun pernah menyaksikan peristiwa sedahsyat ini! Ketiganya sudah tak sabar lagi menceritakan apa yang mereka lihat. Ini wajar, tetapi Yesus melarang mereka bercerita. Saatnya belum tiba. Lagipula Yesus tak ingin ketiganya jadi besar kepala. Mereka harus tutup mulut. Ini tidak mudah. Menjaga rahasia berarti melawan keinginan untuk dipandang hebat. Perlu pengendalian diri. Syukurlah Petrus berhasil. Puluhan tahun kemudian, baru ia ceritakan kejadian ini dalam suratnya (Baca 2 Petrus 1:17-18).

Bisakah Anda menjaga rahasia? Orang kerap membocorkan rahasia, lantas berkata: "Jangan bilang kepada siapa-siapa lagi." Dengan begitu orang berpikir tak akan menimbulkan masalah. Toh "hanya" satu-dua orang yang tahu. Namun akhirnya, rahasia itu bocor ke mana-mana; menimbulkan masalah; melukai hati. Kita perlu belajar mengendalikan diri seperti ketiga murid Yesus. Ada saatnya diam adalah emas.

Matius 17:1-9

1. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes
saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung
yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
2. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya
seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti
terang.
3. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan
Dia.
4. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di
tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah,
satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
5. Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang
menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang
berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan,
dengarkanlah Dia."
6. Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat
ketakutan.
7. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil
berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
8. Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat
seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
9. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada
mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun
sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Read more...

AMINORANG!

AMINORANG = KAMI ADA
AMINORANG UNTUK MEMULIAKAN TUHAN

Nas: Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau dan engkau akan memuliakan Aku. (Mazmur 50:15)

Bacaan: Mazmur 69:1-5, 14-19
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 1-3

Aminorang dalam bahasa Sikha yang terletak di Maumere, Nusa Tenggara Timur, berarti "kami ada!". Kata ini umumnya diucapkan atau diteriakkan orang pada saat keadaan yang menakutkan, contohnya pada saat terjadi bencana alam seperti gempa dan tsunami yang memang pernah melanda daerah itu. Selain berteriak, "aminorang!", masyarakat juga membunyikan tetabuhan atau bahkan memaksa ternak-ternaknya untuk bersuara. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda bahwa masih ada kehidupan di bumi sekaligus seruan permohonan agar Tuhan Sang Pemilik Semesta tergerak hati-Nya oleh belas kasihan dan menghentikan bencana tersebut.

Pada saat-saat yang menggentarkan, kita juga sering sibuk membuat kegaduhan agar Tuhan mengingat kita. Kita ingin Tuhan segera menolong dan melepaskan kita dari "bencana". Teriak kita minta tolong tak terhitung banyaknya. Tentu ini tidak salah karena Tuhan sendiri memerintahkan kita untuk berseru kepada-Nya pada waktu kesesakan (Mazmur 50:15). Pemazmur dalam bacaan kita (Mazmur 69) hari ini juga pernah merasakan keadaan yang menyesakkan ketika ia diburu dan kematiannya diharapkan. Pemazmur menyadari bahwa dalam keadaan seperti itu, hanya Tuhan yang bisa menolong. Karenanya ia menaruh pengharapan pada Tuhan dan mengucap syukur atas pertolongan yang diyakininya berasal dari Tuhan.

Kita bersyukur hati Tuhan mudah tergerak oleh belas kasihan karena Dia sungguh mengasihi umat ciptaan-Nya. Datang dan berserulah kepada Tuhan setiap saat, bukan saja pada saat menggentarkan tetapi setiap saat di hidupmu. Aminorang! Katakan pada-Nya; kita ada disini untuk mengasihi dan dikasihi oleh-Nya.

Mazmur 69:1-5, 14-19

1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Dari Daud.
Selamatkanlah aku, ya Allah, sebab air telah naik sampai ke
leherku!
2. Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu;
aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang
menghanyutkan aku.
3. Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri
karena mengharapkan Allahku.
4. Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada
rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak
membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk
mengembalikan apa yang tidak kurampas.
5. Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku
tidak tersembunyi bagi-Mu.
14. Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam,
biarlah aku dilepaskan dari orang-orang yang membenci aku, dan
dari air yang dalam!
15. Janganlah gelombang air menghanyutkan aku, atau tubir menelan aku,
atau sumur menutup mulutnya di atasku.
16. Jawablah aku, ya TUHAN, sebab kasih setia-Mu baik, berpalinglah
kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar!
17. Janganlah sembunyikan wajah-Mu kepada hamba-Mu, sebab aku
tersesak; segeralah menjawab aku!
18. Datanglah kepadaku, tebuslah aku, bebaskanlah aku oleh karena
musuh-musuhku.
19. Engkau mengenal celaku, maluku dan nodaku; semua lawanku ada di
hadapan-Mu.

Read more...

DUKUN KRISTEN

UJILAH DAHULU SEORANG PEMBUAT MUKJIZAT SEBELUM KITA MENGIKUTINYA
Nas: Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada me-reka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! (Matius 7:22-23)

Bacaan: Matius 7:15-27
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 22-24

Sebuah acara dokumenter yang mengupas soal praktik perdukunan di dunia membuka mata saya tentang adanya dukun-dukun kristiani. Mereka adalah orang-orang yang melakukan praktik perdukunan seperti layaknya seorang dukun: misalnya menyembuhkan orang sakit dengan mengusap-usapkan telur ke bagian yang sakit. Hanya saja, mereka memakai simbol-simbol kristiani dan mengaku bahwa praktik mereka adalah sarana bagi terjadinya mukjizat.

Yesus memperingatkan kita untuk tidak mudah percaya begitu saja kepada orang-orang yang melakukan mukjizat, termasuk mereka yang melakukannya demi nama-Nya. Sebab, mukjizat bukanlah tanda mutlak bahwa seseorang mendapat hak istimewa di hadapan Tuhan. Bahkan, ada orang yang melakukan mukjizat demi nama-Nya, tetapi tidak dikenal oleh-Nya (ayat 23).

Untuk itu, Yesus mengajar kita untuk melihat buah dari kehidupan orang-orang tersebut. Salah satu buah yang terpenting: apakah orang itu membuat kita lebih dekat dengan Tuhan atau justru sebaliknya? Sebab tidak jarang seorang pembuat mukjizat justru membuat orang-orang memuja dirinya dan menjauhi Allah. Atau, tidak jarang mereka membuat kita lebih mencari mukjizat Tuhan daripada pribadi Tuhan itu sendiri. Kewaspadaan ini perlu kita terapkan bukan hanya pada mereka yang melakukan praktik perdukunan, melainkan juga pada orang-orang kristiani lain, pula pemimpin gereja yang kerap mengaku melakukan keajaiban atau mukjizat. Sebab siapa tahu, mereka ternyata adalah serigala buas yang sedang menyamar sebagai domba_siap memangsa kita.


Matius 7:15-27

15. "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan
menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala
yang buas.
16. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik
buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
17. Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik,
sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
18. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak
baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang
baik.
19. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti
ditebang dan dibuang ke dalam api.
20. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan,
Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan
demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan
berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku,
kamu sekalian pembuat kejahatan!"
24. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia
sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas
batu.
25. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda
rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas
batu.
26. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak
melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan
rumahnya di atas pasir.
27. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda
rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Read more...

November 01, 2009

IMAN YANG DEWASA

IMAN YANG DEWASA TIDAK TERGANTUNG PADA SITUASI DAN KONDISI
Nas: ... bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. (Daniel 3:18)

Bacaan: Daniel 3:1-30
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 18-21


Untuk apa Anda beriman? "Supaya saya mengalami mukjizat Tuhan", "Supaya setiap kali berdoa, Tuhan mengabulkan doa saya", "Supaya Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi saya dari bahaya", "Supaya kalau mati saya masuk surga." Ungkapan-ungkapan tersebut kedengarannya sangat baik. Namun, sebetulnya itu mencerminkan pendangkalan makna. Kalau kita bekerja supaya mendapatkan upah, itu wajar. Akan tetapi, kalau kita beriman supaya mendapatkan apa-apa yang kita inginkan, itu menunjukkan iman yang tidak tulus, berpamrih, dan kekanak-kanakan.

Iman yang dewasa_seperti juga cinta yang dewasa_selalu berarti tanpa syarat, tanpa pamrih. Bukan supaya; supaya mendapat ini dan itu yang kita mau, tetapi walaupun; walaupun hidup tidak berjalan seperti yang kita harap. Iman yang dewasa ini ditunjukkan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Ketika Raja Nebukadnezar membuat patung emas besar dan memerintahkan semua orang yang hidup di wilayahnya untuk menyembah patung itu, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak mengikuti perintah tersebut.

"Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu," begitu mereka menjawab (ayat 16-18). Akibatnya, mereka harus berhadapan dengan hukuman. Akan tetapi, toh Tuhan tidak meninggalkan mereka.

Daniel 3:1-30

1. Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam
puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran
Dura di wilayah Babel.
2. Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja,
para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara,
para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk
menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.
3. Lalu berkumpullah para wakil raja, para penguasa, para bupati, para
penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan
semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah
didirikan raja Nebukadnezar itu.
4. Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: "Beginilah
dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku
bangsa dan bahasa:
5. demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab,
gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka
haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja
Nebukadnezar itu;
6. siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu
juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!"
7. Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling,
kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka
sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa,
dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar
itu.
8. Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang
Yahudi.
9. Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: "Ya raja, kekallah
hidup tuanku!
10. Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang
mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus,
serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud
menyembah patung emas itu,
11. dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke
dalam perapian yang menyala-nyala.
12. Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan
pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan
Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya
raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung
emas yang telah tuanku dirikan."
13. Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya
untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah
orang-orang itu dibawa menghadap raja,
14. berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: "Apakah benar, hai Sadrakh,
Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak
menyembah patung emas yang kudirikan itu?
15. Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi
sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-
bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat
itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan
seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa
manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?"
16. Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar:
"Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
17. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia
akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan
dari dalam tanganmu, ya raja;
18. tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja,
bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah
patung emas yang tuanku dirikan itu."
19. Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah
terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya
supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa.
20. Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya
dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan
mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.
21. Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan
pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam
perapian yang menyala-nyala.
22. Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan
luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang
mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
23. Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh
ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
24. Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera;
berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang
telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab
mereka kepada raja: "Benar, ya raja!"
25. Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan
bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang
keempat itu rupanya seperti anak dewa!"
26. Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala
itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba
Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu
keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
27. Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri
raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini
tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak
hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau
kebakaranpun tidak ada pada mereka.
28. Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan
Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan
hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan
melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena
mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah
mereka.
29. Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari
bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan
penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan
dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan
puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara
demikian itu."
30. Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan
Abednego di wilayah Babel.

Read more...

Get Free .CO.CC and .CC.CC Domain name No Ads!
CO.
CC supports for CNAME, A, MX, NS records!

WWW. .CO.CC

e.g. www.myname.co.cc, www.myname2.co.cc

Powered by CO.CC:Free Domain

  © Family Blessing 2009

Back to TOP