Choose a Bible Book or Range
Type your text here
Ignore Case
Highlight Results

October 17, 2010

Tetap Menjadi Berkat

HIDUP DEKAT DENGAN TUHAN SUNGGUH MENYEHATKAN TAK HANYA JIWA, TETAPI JUGA RAGA


Bacaan : Mazmur 92:13-16
Setahun: Yesaya 50-52; 1 Tesalonika 5
Nats: Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar (Mazmur 92:15)

Opa Lukas sudah hampir delapan puluh tahun usianya, tetapi masih tampak sangat sehat untuk orang sebayanya. Setiap hari ia selalu jalan pagi atau berenang selama 15-30 menit. Tidak pernah absen ke gereja, kecuali sedang sakit. Aktif di Persekutuan Lansia di gereja. Ramah, murah senyum, suka humor. Pernah ia sakit dan dirawat seminggu di rumah sakit, dan selama ia di situ hampir semua perawat dan dokter di rumah sakit mengenalnya. Ketika sudah cukup kuat berjalan, ia mengunjungi pasien lain, sekadar menyapa dan mendoakan. Kalau ditanya, apa resepnya hingga tetap sehat dan bersemangat, maka jawabnya, "Semua berkat Tuhan. Opa selalu memanjatkan syukur kepada Tuhan."

Sudah lama para ahli sepakat, bahwa ada korelasi yang erat antara hubungan dengan Tuhan dan hidup sehat. Di Inggris pernah dilakukan survei kepada para lansia. Hasilnya, kakek nenek yang hidupnya dekat dengan Tuhan; rajin membaca Alkitab, berdoa dan beribadah, umumnya mereka lebih bisa bersukacita dan bersyukur dalam hidupnya. Secara fisik pun mereka lebih sehat, tidak rewel, dan lebih mampu bersosialisasi.

Hal yang sama dikatakan oleh pemazmur dalam bacaan Alkitab hari ini, bahwa orang benar-yaitu mereka yang hidupnya dekat dengan Tuhan (ayat 14), akan bertunas seperti pohon korma dan akan tumbuh subur seperti pohon aras Libanon (ayat 13). Pohon korma adalah pohon yang ketika semakin tua, buahnya semakin manis. Sedang pohon aras Libanon, semakin tua batangnya semakin bagus untuk dibuat mebel. Artinya, mereka akan senantiasa menjadi berkat, bahkan sampai masa tuanya

Read more...

Legiun Gemuruh

Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat (Yakobus 5:8)


Gubernur Romawi itu berdiri dengan keputusan tegas di hadapan empat puluh prajurit Romawi dari Legiun Gemuruh. "Aku memerintahkan kalian untuk mempersembahkan korban kepada dewa-dewa Romawi. Jika kalian tidak melakukannya, kalian akan dilucuti dari pangkat militer kalian."

Keempat puluh prajurit itu semuanya percaya dengan teguh kepada Tuhan Yesus. Mereka tahu bahwa mereka tidak boleh menyangkal-Nya atau memberikan korban bagi dewa-dewa Romawi, apa pun yang akan dilakukan Gubernur Romawi kepada mereka.


Candidus berbicara bagi legiun itu, "Tiada yang lebih berharga atau lebih mulia bagi kami selain Kristus, Tuhan kami."

Sang gubernur kemudian mencoba berbagai taktik lainnya untuk membuat mereka menyangkali iman percaya mereka. Pertama, ia menawarkan kepada mereka uang dan kehormatan. Kemudian, ia mengancam mereka dengan siksaan dan aniaya.

Candidus menjawab, "Engkau menawarkan kepada kami uang yang akan ditinggal di dunia dan kemuliaan yang akan sirna. Engkau berusaha untuk membuat kami menjadi kawan Kaisar, tetapi menjauhkan kami dari Raja yang sejati. Kami hanya ingin satu hadiah, yaitu mahkota kebenaran. Kami menanti-nantikan satu kemuliaan, yaitu kemuliaan kerajaan surgawi. Kami ingin kehormatan yang berasal dari surga."

"Engkau mengancam dengan siksaan-siksaan yang menakutkan dan menyebut iman kami sebagai kejahatan, tetapi kami tidak akan menjadi tawar hati atau terikat kepada dunia ini atau dilemahkan dengan ketakutan. Demi kasih kemurahan Allah, kami siap untuk menahan siksaan jenis apa pun."

Sang gubernur menjadi murka. Kini ia ingin mereka disiksa dengan kematian yang perlahan dan menyakitkan. Mereka dilucuti hingga telanjang dan digiring ke tengah-tengah danau yang membeku. Ia menempatkan para prajurit untuk menjaga mereka dan mencegah agar tidak satu pun dari mereka yang dapat melarikan diri.

Keempat puluh orang itu saling memberi semangat seolah-olah mereka akan pergi berperang. "Berapa banyak rekan-rekan seperjuangan kita mati di medan perang, demi kesetiaan mereka bagi raja dunia ini? Jangan sampai kita gagal mengorbankan hidup kita dalam kesetiaan bagi Raja yang sejati! Janganlah kita berpaling, wahai para pejuang! Jangan sampai kita membalikkan badan kita dan kabur dari Iblis." Mereka menghabiskan waktu sepanjang malam dengan berani menahan rasa sakit mereka dan bersukacita di dalam pengharapan bahwa mereka akan berada bersama Tuhan sebentar lagi.

Untuk menambah siksaan bagi para orang Kristen tersebut, bak-bak air panas ditempatkan di sekitar danau. Sang Gubernur berharap hal ini melemahkan tekad pria-pria yang membeku ini. Ia mengatakan kepada mereka, "Kalian boleh datang ke sini saat kalian siap untuk menyangkali iman kalian." Akhirnya, salah seorang dari mereka menjadi lemah imannya, keluar dari es, dan masuk ke dalam bak yang hangat.

Ketika salah seorang penjaga melihat orang yang lemah imannya itu meninggalkan teman-temannya, ia sendiri yang pergi menggantikan orang itu. Ia mengejutkan semua orang dengan menjadi percaya pada saat itu juga; ia membuang bajunya, kemudian ia lari untuk bergabung dengan orang-orang yang telanjang di atas es sambil berseru dengan nyaring, "Aku adalah orang Kristen."

Mengapakah dengan melihat 39 orang percaya yang rela mati demi iman mereka memberikan inspirasi kepada seorang prajurit yang terlatih dengan baik, pada puncak kehidupannya, untuk bergabung bersama dengan mereka dalam kematian? Sungguh menakjubkan untuk melihat bagaimana Allah bekerja melalui situasi-situasi tragis ini untuk memanggil lebih banyak orang datang kepada-Nya.

Shalom,

"Engkau mengancam dengan siksaan-siksaan yang menakutkan dan menyebut iman kami sebagai kejahatan, tetapi kami tidak akan menjadi tawar hati atau terikat kepada dunia ini atau dilemahkan dengan ketakutan. Demi kasih kemurahan Allah, kami siap untuk menahan siksaan jenis apa pun." Sungguh suatu pernyataan iman yang amat berani! Dari mana kekuatan di balik rentetan kata itu? Siapakah gerangan dia manusia yang sanggup mengatakannya? Tentulah ia bukan orang yang biasa-biasa saja.

Dan konsekuensi dari pernyataan itu begitu tragis. Candidus -- seorang Kristen yang juga wakil dari Legiun Gemuruh yang melontarkan pernyataan ini kepada Gubernur Romawi -- dan 39 rekannya harus menemui ajal dengan cara dilucuti hingga telanjang dan digiring ke tengah-tengah danau yang beku. Kisah kepahlawanan iman yang menggetarkan ini dapat kita baca pada Kolom Kesaksian kali ini.

Setelah tuntas membaca kisah Candidus dan rekan-rekannya, kami mengajak Anda semua untuk turut berdoa syafaat lewat panduan doa yang dapat dibaca pada Kolom Pokok Doa. Selamat menikmati sajian edisi kali ini! Tuhan memberkati!

Read more...

April 02, 2010

JERITAN KESEPIAN

CAWAN YANG PALING MENAKUTKAN BAGI YESUS ADALAH KETIKA BAPA MENINGGALKAN-NYA SEORANG DIRI

Bacaan : Matius 27:45-55
Setahun: Hakim-hakim 16-18; Lukas 7:1-30
Nats: Eli, Eli, lema sabakhtani? (Matius 27:46)

Betapa mengharukannya ketika harus mendengar jeritan kesepian yang paling menyayat hati terucap dari mulut Pribadi yang menanggung penderitaan. Jeritan kesepian paling mengerikan yang pernah terucap di dunia ini. Bukan oleh seorang narapidana yang menghabiskan sisa hidupnya dalam jeruji penjara; bukan oleh seorang janda yang tidak lagi memiliki siapa pun dalam hidupnya; bukan juga oleh seorang pasien yang terbaring tak berdaya di rumah sakit.

Jeritan ini terdengar dari sebuah bukit, dari atas kayu salib, dari mulut Sang Mesias yang berkata lirih, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (ayat 46). Jeritan lirih, tetapi mewakili kesepian yang luar biasa. Jeritan yang lebih pekat daripada gelapnya langit waktu itu. Yesus yang telah bersama-sama dengan Allah disepanjang kekekalan, sekarang terpaku seorang diri di kayu salib. Anak Manusia menanggung begitu banyak dosa dunia, sampai-sampai Allah Bapa pun memalingkan muka.

Inilah ketakutan Yesus. Bukan karena Dia harus menanggung siksaan, pukulan, hajaran, atau cambukan. Bukan karena olok-olok yang akan diterima-Nya di pengadilan. Bukan karena Dia harus menanggung rasa sakit ketika disesah atau ketika kedua tangan dan kaki-Nya dipaku. Ketakutannya adalah saat Dia mengetahui bahwa Bapa di surga akan memalingkan wajah dari-Nya untuk sesaat, karena dosa manusia yang Dia pikul.

Jeritan kesepian Yesus di kayu salib itu kiranya lebih dari cukup untuk mewakili kasih-Nya kepada kita. Jangan lagi kita menyia-nyiakan kasih Yesus yang telah menanggung hukuman dosa kita.


  Matius 27:45-55

 45    Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu
     sampai jam tiga.
 46    Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli,
     Eli, lama sabakhtani?"* Artinya: /Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa
     Engkau meninggalkan Aku?
 47    Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Ia
     memanggil Elia."
 48    Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga
     karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya
     pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.
 49    Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat,
     apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia."
 50    Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-
     Nya.
 51    Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke
     bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,
 52    dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah
     meninggal bangkit.
 53    Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu
     masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.
 54    Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus
     menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa
     yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak
     Allah."
 55    Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu
     perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk
     melayani Dia.

Read more...

TELUR DADAR BUSUK

BAGI ORANG YANG MENGHARGAI PENEBUSAN KRISTUS DOSA KECIL SAMA MENGERIKANNYA DENGAN DOSA BESAR

Bacaan : Roma 6:5-11
Setahun: Hakim-hakim 19-21; Lukas 7:31-50
Nats: Sebab Ia mati, yakni mati terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya; namun Ia hidup, yakni hidup bagi Allah (Roma 6:10)

C.S. Lewis, penulis yang terkenal dengan karyanya, The Chronicles of Narnia, suatu ketika didatangi seseorang yang ingin berkompromi dalam kehidupan kristianinya. Ia merasa tidak bermasalah kalau sesekali melakukan dosa dan pelanggaran kecil-kecilan. Tuhan pasti akan melupakan dosa-dosa kecil itu sepanjang ia menjadi orang kristiani yang baik. Tidak apa-apa kan berdosa sedikit, selama hal-hal yang lain baik-baik saja? Begitu pikirnya. C.S. Lewis menjawab, "Kalau kita mencampurkan telur yang segar dengan telur yang busuk, kita tidak akan dapat membuat telur dadar yang enak."

Yesus Kristus mati untuk menebus dosa, satu kali dan untuk selamanya. Dia menebus dosa seluruh umat manusia dari abad ke abad. Dia menebus dosa-semua dosa, baik dosa yang kita anggap besar maupun dosa yang kita anggap kecil.

Dalam konteks ini, pembedaan antara dosa besar dan dosa kecil menjadi tidak relevan lagi. Tidak ada dosa yang remeh. Setiap dosa adalah "telur busuk" yang merusakkan kehidupan manusia. Dan, Allah menghadapi dosa secara sungguh-sungguh dan radikal. Dia mengatasi persoalan dosa dengan harga yang sangat mahal: dengan menyerahkan nyawa Anak-Nya yang tunggal sebagai tebusan.

Ketika kita tergoda untuk berkompromi melakukan perkara yang kita anggap sebagai "hanya dosa kecil", ada baiknya kita berhenti sejenak dan merenungkan kembali penebusan Kristus. Untuk dosa yang kecil sekalipun, Dia harus menebusnya dengan meregang nyawa di kayu salib.Akankah kita menganggap enteng pengurbanan-Nya itu dengan terus menyimpan "telur busuk"?


Roma 6:5-11

5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan
kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama
dengan kebangkitan-Nya.
6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut
disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan
kita menghambakan diri lagi kepada dosa.
7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.
8 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa
kita akan hidup juga dengan Dia.
9 Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara
orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.
10 Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan
untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi
Allah.
11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati
bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.s
dari Galilea untuk melayani Dia.

Read more...

Get Free .CO.CC and .CC.CC Domain name No Ads!
CO.
CC supports for CNAME, A, MX, NS records!

WWW. .CO.CC

e.g. www.myname.co.cc, www.myname2.co.cc

Powered by CO.CC:Free Domain

  © Family Blessing 2009

Back to TOP